Emi Suy
Musik dan Penguatan Puisi ala Ananda Sukarlan
PUISI itu dahsyat, dia adalah agen perubahan dengan cara menginspirasi terjadinya perubahan. Puisi memang tidak menciptakan perubahan secara langsung, namun melalui daya gugah yang tinggi sehingga dapat memicu terjadinya perubahan. Namun syaratnya harus ditulis oleh penyair yang tepat serta diperkuat ( diberdayakan ) oleh pihak yang tepat pula. Demikian kesimpulan yang saya peroleh sepanjang mendengarkan paparan dan diskusi dengan Ananda Sukarlan, seorang komponis dan pianis yang memiliki reputasi internasional.
Meskipun seorang musisi, namun Ananda Sukarlan memiliki peran besar terhadap penguatan atau pemberdayaan puisi sehingga menjadi lebih menggugah dan berfungsi sebagai agen perubahan. Inilah yang akan saya bahas pada tulisan ini, bagaimana proses pemberdayaan yang dilakukan oleh seorang musisi terhadap puisi, sehingga puisi menemukan jalan yang lebih baik dan lebih dahsyat sebagai agen perubahan.
Puisi memiliki nasibnya sendiri dan seringkali tak terprediksi. Bahkan perjalanannya sampai mampu mengubah nasib penulisnya, setidaknya nasib perjalanan kepenyairan si penciptanya. Puisi saya berjudul “ Kukusan ” adalah sebuah contoh dari hal tersebut. Puisi yang saya tulis pada tahun 2021 ini bukanlah sebuah puisi yang terbit dari ambisi besar, seperti mendedahkan masalah politik demi perubahan skala sosial bangsa. Ada beberapa kalangan yang menyebut “Kukusan” sebagai puisi domestik, atau ndeso .
Jika memang ada yang demikian, saya tidak ingin menyanggahnya. Apalagi meledak marah-marah. Nyatanya, dari judulnya saja, “Kukusan” , meruap aroma ndeso . Bahan dasar benda berbentuk kerucut tersebut adalah bambu, yaitu jenis bambu yang dagingnya dan terutama kulitnya liat. Jenis ini di tanah Sunda disebut awi tali ini hanya tumbuh umumnya di desa-desa pegunungan. Orang yang menjadikannya kukusan, dengan meraut dan menganyamnya, seperti orang yang membuatnya menjadi caping, umumnya adalah orang yang lahir dan bermukim di desa. Kemudian kukusan memang tak seperti monumen, lokasinya bukan di ranah publik, melainkan di ranah domestik.
Namun, apa mungkin ada monumen tanpa kukusan? Apa
mungkin ada laku monumental tanpa benda domestik dan ndeso itu?
Saya tidak tahu. Saya hanya merasa kami, saya dan saudara-saudara saya, merasa
akrab benar dengan kukusan. Dengan itulah setiap hari ibu kami antara lain
mengubah beras menjadi nasi. Dengan nasi yang dimasak ibu kami, hari ke hari,
minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, kami pun bertumbuh. Bertumbuh
sebagai individu-individu dan sekaligus anggota keluarga, bagian dari kampung,
bagian dari desa, bagian dari lingkungan-lingkungan lain lagi, yang sebagiannya
lebih besar dari itu.
Dalam proses pertumbuhan ini, saya, mungkin juga
saudara-saudara saya, melihat dan merasakan betapa dekat ibu dengan kukusan.
Kadang ibu tampak memperlakukan kukusan bukan sebagai benda, tapi mahluk yang
berjiwa, yang bertabiat, sehingga kadang tampak pulalah bahwa yang menanak nasi
itu ibu bekerja sama dengan kukusan. Jadi, entah bagaimana proses persisnya,
munculah “Kukusan”, sebuah puisi yang terdiri dari tiga bait,
dengan setiap bait terdiri dari tiga baris, yang bait pertamanya seperti ini:
“di kukusan bambu, menghitam
dibakar bara dan doa, begitu tenang
ibu menanak usia kami, hingga matang” .
Puisi yang bait pertamanya demikian itu barangkali
lebih sebagai manifestasi bauran cinta, rasa hormat, rasa terima kasih, dan
rasa kagum saya akan ibu kami, juga dengan derajat berbeda akan kukusan. Namun,
itu hanyalah tafsir saya atas “Kukusan”. Meskipun memang saya yang
menulis puisi sembilan baris dengan baris-baris yang panjangnya tidak sama itu,
tetaplah tafsir saya atasnya hanyalah salah satu tafsir. Dan ini tentu tak
mengharamkan hadirnya tafsir-tafsir para pembaca lain.
Masyarakat, suku bangsa, bangsa, dan bahkan negara
mustahil ada tanpa keluarga. Sementara keluarga mustahil pula tumbuh sejahtera
tanpa rumah. Charles Toto, chef asal Papua yang jawara dalam hal masakan hutan,
berkata bahwa setiap arsitektur selalu dirancang dengan mulai dari merancang
dapur. Adapun jantung dapur di mana pun adalah memasak bahan mentah menjadi
makanan (pokok) matang. Jika memang demikian, kabur atau tak jelaslah batas
antara ranah publik dan ranah domestik.Kedua ranah itu lebih saling merasuki,
saling melengkapi. Namun, terlepas dari itu, puisi itu barangkali juga sebagai
kukusan, sebagai teks yang terbuka, teks yang memiliki banyak celah untuk
dimasuki, yang karenanya menjadi menyediakan banyak kemungkinan bagi
terjalinnya berbagai koneksi.
Barangkali karena itulah “Kukusan” kemudian
sampai ke tangan Ananda Sukarlan. Pada tahun 2021, Ananda Sukarlan menggubah
puisi “Kukusan” menjadi sebuah partitur musik klasik. Ketika
dinyanyikan oleh penyanyi sopran Vetalia Pribadi diiringi oleh dentingan piano
Ananda Sukarlan, terasa sekali ada roh baru yang sangat kuat masuk ke dalam puisi
ini. Ananda Sukarlan sudah memberikan penguatan atau empowerment kepada
puisi ini, bersama dengan Vetalia Pribadi. Pesan yang disampaikan juga terasa
semakin dahsyat. Ananda Sukarlan melakukan transformasi dari teks menjadi
notasi musik. Begitulah cara Ananda sukarlan meniupkan roh tambahan kepada
puisi.
Kebanyakan orang Indonesia yang mengenal Ananda
Sukarlan sebagai seorang yang berkecimpung di panggung musik klasik sebagai
pianis. Sebagai pianis musik klasik, Ananda Sukarlan memang layak dikata memiliki
reputasi, bukan saja di Indonesia, melainkan dunia. Dalam setahun, ia sering
berkeliling untuk memenuhi undangan konser di berbagai negara, terutama di
Eropa dan Amerika Utara. Dia lulus dengan predikat summa cum laude pada 1993
dari Royal Conservatory of Den Haag, Belanda.
Ananda Sukarlan juga memiliki kisah tersendiri
tentang Phillis Wheatley, seorang perempuan penyair kulit hitam pertrama di
Amerika Serikat. Puisi-puisi penyair Afrika-Amerika pertama itu yang terutama
menghubungkan mereka. Sampai akhir hayatanya dalam usia 31 tahun, pada 5
Desember 1784, dia terus memperjuangkan kebebasan serta kesetaraan dengan
menulis puisi dan surat untuk orang-orang yang dianggapnya memiliki kekuasaan.
Cerita tentang Phillis Wheatley ini sangat
menggugah. Ananda Sukarlan menceritakannya ketika malam konser bertajuk Magical
Noted Consert di Hall @America di Pacific Place, Jakarta, pada Selasa
20/12/2022. Saya menyimak dengan seksama. Phillis Wheatley datang ke Amerika
bukan karena kehendaknya. Dia diculik oleh para pedagang budak pada usia tujuh
tahun dari kampung tempatnya lahir pada 18 Mei 1753, di Gambia, Afrika. Para
penculiknya membawanya dengan paksa ke Schooner Phillis. Kapal pengangkut budak
tersebut membawanya dan para budak lainnya mengarungi transatlantik, sebuah
pelayaran yang bagi mereka yang tetiba dijadikan budak berarti pelayaran
berbulan-bulan dengan makan dan minum yang sangat tidak memadai, tanpa kamar
mandi dan tempat buang air, penyiksaan semaunya yang bisa disebut rutin, bahkan
pembunuhan dan dibuang ke laut. Budak perempuan masih ditambah dengan pelecehan
seksual dan pemerkosaan.
Namun ketika Schooner Philils berlabuh di dermaga
Boston, Massachusett, pada Juli 1761, ia masih hidup meskipun dengan tubuh
kurus digerogoti asma. Dan para penculiknya berkeras mencuci otaknya, menghapus
sejarahnya, termasuk menghapus nama dari orang tuanya. Dan lagi kemudian, di
tempat pelelangan budak, yang masih dalam lingkungan dermaga Boston, yang
ketika itu masih merupakan koloni Inggris, agen budak menjajakannya. Ia dipaksa
berdiri dalam udara panas terik, dengan tubuh kurus hampir telanjang, dan
lehernya digantungi tulisan “Phillis for Sale”.
Johan Wheatley yang sudah memiliki beberapa budak membelinya. Ia dipekerjakan untuk membantu segala macam pekerjaan istri Johan.
Sang istri mengajarinya bahasa Inggris lebih untuk memungkinkan ia bekerja
maksimal. Dalam tempo hanya delapan belas bulan, dia sudah lancar bahasa
majikannya. Majikan perempuan itu pun memberinya Alkitab, dan ia menjadi
kecanduan membaca. Lalu dia diberi bacaan klasik Yunani dan Latin serta sastra
Inggris yang biasa mereka baca oleh majikan perempuan. Pasokan bacaan seperti
karya-karya Ovid, Virgil, Ternce, dan Homer menjadikan batinnya bergolak.
Dia, yang sudah diberi nama baru menjadi Phillis
Wheatley, menjadi gelisah ingin mengungkapkan pergolakan batinnya. Pada usia 14
tahun, Philis sudah menerbitkan puisi pertamanya, “To the University of
Cambridge”.” Puisi ini bukan pantun singkat atau syair remaja yang
acak-acakan, tetapi tiga puluh dua baris” yang koheren.
Puisi seperti itu tentulah menimpakan beban
tambahan ke bahu Phillis. Sastra Amerika abad ke-18 adalah dunia
maskulin-putih. Berbagai reaksi negatif terhadap karyanya malah menjadikan kian
beremangat. Perjuangannya tentulah tak selalu lancar. Adakala Phillis merasa
terjegal. Ketika demikian, seperti dalam puisi On Virtue”, dia (seperti)
mengingatkan dirinya sendiri:
“hei, jiwaku, jangan tenggelam dalam
keputusasaan,
Kebajikan ada di dekatmu,
dan dengan tangan yang lembut
Sekarang akan memelukmu,
melayang di atas kepalamu.”
Pada usia yang masih remaja juga, Phillis
mengkodisikan dirinya untuk dapat terus menulis puisi-puisi yang menyoalkan
perbudakan dan berbagai akibat buruknya. Salah satunya adalah salah satu
puisinya yang masyhur “On Being Brought from Afrika to America”. Puisi
delapan baris ini jauh dari puisi merah jambu. Kedua baris akhirnya seperti
ini:
“... Remember, Christians, Negroes, black
is Cain
May be refin’d, and join the angelic train.”
Ananda Sukarlan kembali menampilkan komposisi
tersebut ditampilkan pada 14 November 2022, bersama Pasuan Suara Hati Suci di
Nusa Dua, Bali, dalam KTT G20. Untuk menyanyikan puisi tersebut Ananda
mengundang Pepita Salim, salah satu solois lulusan New England Conservatory di
Boston, AS.
Melalui kedua kisah ini, “ Kukusan ” dan “ On Being Brought from Africa to America ”, Ananda Sukarlan meniupkan roh tambahan ke kedua puisi tersebut melalui komposisi musik berupa partitur piano klasik. Menurut saya, ini bukanlah sebuah wahana biasa, melainkan sebuah rekonstruksi dengan menambahkan roh terhadap puisi tersebut, dan mungkin bahkan memunculkan roh baru.
Saya bisa mengibaratkan puisi bagaikan bola, dan Ananda Sukarlan adalah Lionel Messi yang meliuk-meliuk di lapangan memberikan roh kepada bola lalu mencetak gol. Ananda mengatakan bahwa dia dan Messi sama-sama pengidap Sindrom Asperger. “Kukusan” dan “On Being Brought from Africa to America” adalah dua puisi yang dibuat dengan latar belakang yang berbeda. Namun di tangan seorang Ananda Sukarlan, dia menjadi sangat bernyawa, semakin dahsyat, untuk menyampaikan pesan-pesannya sebagai agen perubahan. Ananda mengatakan bahwa puisi itu adalah musik, dan musik itu PUITIS .
Desember 2022